08/27/2013 (All day)
Jakarta--Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud),
"Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan kebudayaan untuk
membentuk generasi bangsa yang berkarakter", tentunya perlu didukung
peran tiap-tiap unit kerja termasuk museum.
Kepala Museum Nasional, Intan Mardiana, pada acara Ceramah Ilmiah Membangun Karakter
Bangsa melalui Museum (27/08) mengatakan museum berperan untuk
melakukan pelestarian warisan budaya termasuk memiliki peran dalam
mengedukasi masyarakat. "Tugas kita adalah untuk lebih mengenal budaya
bangsa melalui karakter dan ini menjadi tujuan dari pelaksanaan ceramah
ilmiah yang rutin dilakukan tiap dua minggu sekali," tutur Intan.
Sementara itu, nara sumber ceramah ilmiah, Achmad Ferdyani Saifudin,
juga menilai membangun karakter bangsa adalah isu penting dan mendesak
khususnya melalui museum. Tetapi disayangkan, museum, buku, dan
perpustakaan belum mendapat tempat di hati masyarakat. Achmad juga
menilai karakter bangsa diduga sudah merosot, menipis, dan menurun dalam
dekade terakhir.
Lebih lanjut, Achmad berpendapat kecuali
untuk kepentingan akademis dan tugas sekolah, tingkat kunjungan ke
museum masih relatif rendah dan orientasi dominan museum masih pada
koleksi dan sistem koleksi. "Sejatinya museum menyandang tugas besar
sebagai sentra (focal point) dalam membangun karakter bangsa," ujarnya.
Achmad yang juga sebagai Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Indonesia mengusulkan membangun paradigma
yang sesuai dengan kehidupan masa kini yaitu dari paradigma atau
pendekatan dari sensibel ke narasi dialogis.
Pendekatan
sensibel atau panca indra adalah pendekatan dimana pengunjung yang
datang ke museum mengandalkan penglihatan mata, menyerapnya, dan
selesai. Cara pandang ini hendaknya dikembangkan menuju paradigma
dialogis yang menyertakan berbagai hal sesuai dengan gejala trans
(batas-batas antar kebudayaan yang semakin bias karena adanya pergerakan
masyarakat secara teritorial dan perkembangan teknologi komunikasi).
"Paradigma narasi dialogis ini termasuk ada kemampuan komunikasi,
pengetahuan tentang sistem politik, ekonomi, kebudayaan, keanekaragaman
etnik, agama dan lain sebagainya. Museum kemudian menjadi arena dimana
semua sistem menjadi pembentuk karakter bangsa," jelasnya.
Implementasinya, menurut Achmad, pengunjung museum dapat berdialog
secara internal dan eksternal, misalnya salah satunya melalui peran
guide untuk berdialog secara interaktif dan memasukkan pesan-pesan
karakter bangsa.
Achmad menyontohkan indikator keberhasilannya,
apabila pengunjung yang memasuki museum dapat merasakan percampuran
emosi dan meninggalkan kesan mendalam dari kunjungannya, berarti museum
telah berhasil melaksanakan perannya.
Achmad juga menyarankan
agar berbagai pihak terlibat dalam mendukung pendekatan narasi dialogis
termasuk juga mengintegrasikan dengan kurikulum sehingga tercipta
hubungan dialogis antara museum dengan sekolah-sekolah.

0 komentar: