Images

METODE PEMBELAJARAN BERTANYA


A. Pengertian
            Kedudukan guru mempunyai arti penting dalam pendidikan. Arti penting itu bertolak dari tugas dan tanggung jawab guru yang cukup berat untuk mencerdaskan anak didiknya. Kerangka berpikir yang demikian menghendaki seorang guru untuk melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan tugasnya dalam interaksi edukatif. Keterampilan tersebut dapat diperoleh  salah satunya dengan cara menerapkan metode cara bertanya dalam proses pembelajaran.
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “bertanya” . Questioning (bertanya) merupakan strategi utama yang berbasis konstektual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada spek yang belum diketahuinya. Metode bertanya (tanya-jawab) adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah.
Bertanya merupakan bagian yang sangat penting dalam belajar. Pertanyaan yang diajukan oleh siswa merupakan indiaktor bahwa siswa sudah mulai belajar. Tanpa pertanyaan, siswa dapat dikatakan belum belajar. Jika seseorang siswa bertanya, maka ia sudah melihat permasalahan atau masalah pada sesuatu yang sedang dipelajari. Pemunculan masalah menandakan bahwa siswa sudah mulai berpikir, dan jika masalah itu dirumuskan menjadi pertanyaan berarti siswa itu berkehendak untuk menemukan jawaban atas masalah yang ditemukan; berarti pula siswa berkehendak untuk mengembangkan pikiran lebih lanjut. Itulah belajar.
  Pertanyaan juga sangat penting dalam proses pembelajaran, Socrates (dalam Hasibuan, 1988) mengutarakan bahwa pertanyaan merupakan “the very core of teaching”. Dalam model pembelajaran konvensional (“pembelajaran berbasis pengetahuan”), guru pada umumnya mengajukan pertanyaan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran yang diceramahkan guru sudah dipahami siswa, atau hanya untuk membawa siswa ke pamahaman materi pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Namun, pertanyaan yang diajukan dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan lebih dari itu. Louisel danDescamps (1992) menyebutkan tiga tujuan pokok dari dikemukakannya pertanyaan dalam proses pembelajaran, yaitu: meningkatkan tingkat berpikir siswa, mengecek pemahaman siswa, dan meningkatkan partisipasi belajar siswa. Pada pembelajaran sains masa kini yang mempunyai kecenderungan berbasis kompetensi, khususnya pada pembelajaran sains yang menggunakan model belajar penemuan (discovery-inquiry learning).

B. Fungsi Metode Bertanya
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1).  Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis;
2).  Mengecek pemahaman siswa;
3).  Membangkitkan respon kepada siswa;
4).  Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5).  Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa;
6).  Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
7).  Membangkitkan lebih banyak banyak lagi pertanyaan dari siswa; dan
8).  Menyegarkan kembali pengetahuan siswa;
            Hampir pada semua aktivitas belajar, dapat menerapkan questioning (bertanya): antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dan sebagainya. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati. dan sebagainya.
            Metode bertanya biasanya diterapkan apabila:
-  Bermaksud mengulang bahan pelajaran.
-  Ingin membangitkan atau menhidupkan suasana belajar menjadi lebih kondusif.
-  Tidak terlalu banyak jumlah siswa.
-  Sebagai selingan metode ceramah.

C. Jenis Pertanyaan
          Pada dasarnya ada dua pertanyaan yang perlu diajukan, yakni pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran.
a.   Pertanyaan ingatan (pengetahuan)
Dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan sudah Kepada siswa. Biasanya pertanyaan bermula dari apa, kapan, dimana, berapa, dan sejenisnya. Pertanyaan pengetahuan menuntut siswa untuk mengingat atau mengungkap kembali fakta-fakta yang penting untuk membangun konsep atau prinsip. Pertanyaan yang meminta siswa untuk mengingat kembali konsep (difinisi) atau prinsip (misalnya: rumus) juga termasuk kategori pertanyaan pengetahuan.. Pertanyaan pengetahuan pada umumnya hanya mempunyai satu jawaban benar dan merujuk pada informasi-informasi yang sudah disajikan kepada siswa, atau menyangkut pelajaran yang lalu (Louisel danDe sc am ps, 1992).
Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan cepatnya pertumbuhan penduduk Indonesia?
      b.   Pertanyaan pikiran
Dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana cara berpikir anak dalam menanggapi suatu persoalan. Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan kata mengapa, bagaimana.
Contoh: Bagaimana pendapatmu bila pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin meningkat?

D. Teknik Mengajukan Pertanyaan
                   Berhasil tidaknya metode bertanya dalam proses pembelajaran, sangat tergantung pada teknik guru dalam mengajukan pertanyaannya.
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
a). Perumusan pertanyaan harus jelas dan terbatas, sehingga tidak menimbulkan   keraguan pada siswa.
      b).  Pertanyaan hendaknya terlebih dahulu diajukan untuk seluruh siswa sebelum menunjuk siswa (perorangan) untuk menjawabnya.
c).  Memberi kesempatan atau waktu bagi kepada siswa untuk berpikir.
d).  Hargailah pendapat atau pertanyaan dari siswa.
e).  Distribusi atau pemberian pertanyaan harus merata.
f). Membuat ringkasan hasil dari kegiatan bertanya dalam proses pembelajaran sehingga memperoleh pengetahuan secara sistematik.

E.  Tujuan Metode Bertanya
          Tujuan yang akan dicapai dari metode bertanya yaitu:
  Untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai siswa.
  Untuk merangsang siswa untuk berpikir.
  Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang belum dipahami.

F.   Klasifikasi Keterampilan dalam Metode Bertanya
            Beberapa keterampilan bertanya yang harus dikuasai oleh guru adalah sebagai berikut :     


1.  Keterampilan Bertanya Dasar
            Bagaimanapun tujuan pendidikan, secara universal guru akan selalu menggunakan keterampilan bertanya kepada siswanya. Cara bertanya untuk seluruh kelas, untuk kelompok, atau untuk individu, memiliki pengaruh yang sangat berarti, tidak hanya pada hasil belajar siswa, tetapi juga suasana kelas baik sosial maupun emosional. Dengan bertanya akan membantu siswa belajar dengan kawannya, membantu siswa lebih sempurna dalam menerima informasi, atau dapat mengembangkan keterampilan kognigtif tingkat tinggi. Dengan demikian guru tidak hanya akan belajar bagaimana“bertanya” yang baik dan benar, tetapi juga belajar bagaimana pengaruh bertanya di dalam kelas.
            Kelancaran bertanya (fluency) adalah merupakan jumlah pertanyaan yang secara logis dan relevan diajukan guru kepada siswa di dalam kelas. Kelancaran bertanya ini sangat diperlukan bagi guru dalam proses pembelajaran. Komponen yang penting dalam bertanya antara lain harus jelas dan ringkas.
            Menstruktur pertanyaan perlu juga diperhatikan. Pertanyaan yang disajikan guru diarahkan dan ditujukan pada pelajaran yang memiliki informasi yang relevan dengan materi pelajaran, untuk membantu siswa mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan.
            Pemberian waktu (pausing) untuk berpikir setelah guru bertanya merupakan  faktor penting. Pemberian waktu ini akan menghasilkan beberapa keuntungan di antaranya siswa merespon bertambah, banyak pikiran muncul, siswa mulai berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, banyak siswa bertanya bertambah, atau guru cenderung meningkatkan variasi bertanya.
            Bila guru bertanya, dan siswa tidak dapat menjawab, kemudian pertanyaan tersebut diarahkan kepada siswa lain, maka guru tersebut telah melakukan “pindah gilir” dalam bertanya. Pindah gilir dalam bertanya merupakan pertanyaan yang sama yang diarahkan kepada beberapa siswa secara berurutan dengan komentar yang sangat minimal atau tanpa komentar sama sekali. Maksud pindah gilir ini antara lain mengurangi campur tangan guru, mengurangi pembicaraan guru yang tidak perlu, dan meningkatkan kemungkinan respon siswa secara lansung terhadap yang lain.
            Anggapan belajar adalah berhubungan dengan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk berpartisipai secara aktif dalam percakapan di kelas, maka cara mendistribusikan perhatian ataupun pertanyaan adalah hal yang penting.

a.  Tujuan
1)      Untuk meningkatkan perhatian perhatian dan rasa ingin tahu siswa terhadap satu topik.
2)      Memfokuskan perhatian pada suatu konsep masalah tertentu.
3)      Mengembangkan belajar secara aktif.
4)      Menstimulasi siswa untuk bertanya pada diri sendiri ataupun pada orang lain.
5)      Menstruktur suatu tugas sedemikian rupa, sehingga siswa akan belajar secara maksimal.
6)      Mengkomunikasikan kelompok, bahwa keterlibatan dalam belajar adalah sangat diharapkan, demikian juga partisipasi semua anggota keloimpok.
7)      Mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
8)      Memberi kesempatan siswa untuk mengasimilasi dan merefleksi inforamsi.
9)      Mengembangkan kemapuan berpikir siswa.
10)  Mengembangkan refleksi dan komentar siswa terhadap respon siswa yang lain maupun guru.
11)  Mengungkapkankeinginan yang sebenarnya dari siswa melalui ide dan perasaannya.
12)  Memberi kesempatan siswa untuk belajar sendiri melalui diskusi.

b.  Penyusunan Kata-kata
            Untuk membantu siswa merespon pertanyaan guru harus disusun dengan kata-kata yang cocok dengan tingkat perkembangan kelompok. Jangan dilupakan perbedaan pembendaharaan kata-kata antara guru dengan siswa, atau menganggap rendah tingkat berpikir siswa. Pertanyaan juga harus disusun seekonomis mungkin. Pertanyaan yang panjang dan melantur adalah sulit untuk ditangkap dan biasanya tidak jelas apa yang menjadi tugas siswa secara spesifik. Dalam menyusun pertanyaan dapat diberikan kata-kata kunci untuk menjawanya. Dengan demikian, tugas siswa menjadi jelas dan dapat mengambil kata-kata yang diberikan untuk menjawabnya. Contoh : ”Mengapa pada waktu malam hari angin bertiup dari arah laut menuju daratan?” ”Apa jasa Pangeran Diponegoro terhadap negara kita?” Atau ”Bagaimana pengaruh harga minyak bumi terhadap penghasilan negara?”
c.  Struktur
            Selama diskusi bberlangsung usahakan guru memberi informasi yang relevan dengan tugas siswa, baik sesudah atau sebelum pertanyaan-pertanyaan. Cara demikian, memiliki pengaruh yang penting terhadap siswa, yang memberi materi yang cukup untuk pemecahan masalah. Hal demikian dapat mempertahankan diskusi tetap relevan dengan tujuan yang ditetapkan.


d.  Pemusatan
            Ada dua aspek yang dapat diambil dari komponen pemusatan ini. Pertama, terhadap ruang lingkup pertanyaan yang luas (terbuka), atau yang sempit. Contoh pertanyaan luas, ”Apakah akibat dari devaluasi yang dilakukan pemerintah Indonesia?”  ”Apa pengaruh ASEAN terhadap negara Indonesia?” Atau ’’Bagaimana pengaruh iklim mempengaruhi cara hidup manusia?” Pertanyaan tersebut memerlukan jawaban yang luas, lain halnya dengan pertanyaan yang sempit seperti berikut: ”Apa akibat devaluasi terhadap gaji pegawai negeri?” ”Bagaimana iklim mempengaruhi cara bercocok tanam manusia?” Atau ”Apa pengaruh ASEAN terhadap politi luar negeri Indonesia?” Pertanyaan-pertanyaan terakhir memungkinkan siswa untuk dapat menjawab secara lebih sempit atau memusat. Kedua jenis pertanyaan tersebut diperlukan dalam proses pembelajaran. Semua akan tergantung dari tujuan serta masalah yang muncul dalam diskusi. Umumnya pertanyaan luas diajukan pada saat diskusi akan dimulai sebagai alat untuk melibatkan siswa secara maksimal. Pertanyaan yang lebih sempit atau memusat diajukan sebagai cadangan untuk memberikan inforamsi yang relevan terhadap pertanyaan siswa.
            Aspek yang kedua ialah pemusatan terhadap jumlah tugas siswa sebagai akibat dari pertanyaan guru. Pertanyaan yang baik ialah pertanyaan yang dipusatkan untuk satu tugas, dengan demikian akan menjadi jelas spesifikasi tugas yang diharapkan dari siswa. Contoh pertanyaan multi pemusatan, misalnya ”Apa akibat devaluasi terhadap penghasilan pegawai negeri, petani, dan pedagang?” Pertanyaan demikian membuat siswa bekerja secara stimulan dengan hasil yang kurang baik dan proses belajar menjadi berkurang.

e.  Pindah Gilir
            Bila guru menghendaki tetap ada perhatian penuh dari siswa dan meminta beberapa siswa untuk merespon, guru dapat menggunakan teknik bertanya pindah gilir. Setelah mengajukan pertanyaan untuk seluruh anggota kelas, kemudian guru dapat meminta salah seorang siswa untuk menjawabnya, dengan cara memanggil nama (pindah gilir verbal) atau dengan menunjuk, mengangguk, atau senyum (pindah gilir nonverbal).
            Cara demikian dapat mengurangi pembicaraan guru, dan campur tangan guru dalam pelajaran dapat diminimalkan. Walaupun komponen ini sangat sederhana, tetapi dapat meningkatkan partisipasi.

f.  Distribusi
            Untuk melibatkan siswa langsung dalam pelajaran, disarankan mendistribusikan pertanyaan secara random (acak) selama proses pembelajaran (interaksi edukatif) berlangsung. Pertanyaan menyebar ke seluruh penjuru ruangan dengan memberi pertanyaan tambahan secara langsung. Prosedur pertanyaan tetap, yaitu mula-mula ke seluruh anggota kelas, kemudian baru menunjuk seorang siswa.

g.  Pemberian Waktu
            Tiap siswa berbeda dalam kecepatan merespon pertanyaan, dan berbeda pula tingkat kemampuan berbicara secara jelas. Salah satu cara membantu mereka adalah dengan memberi waktu berpikir dalam beberapa detik setelah pertanyaan diajukan kepada seluruh anggota kelas dan menunjuk siswa tertentu untu menjawabnya.

h.  Hangat dan Antusias
            Kehangatan dan antusia yang diperlihatkan guru terhadap jawaban siswa, punya arti penting dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam pelajaran. Untuk itu guru dapat menggunakan variasi pemberi penguatan, baik verbal maupun nonverbal. Apabila hal ini biasa dipakai guru, maka respon demikian akan keluar secara mekanik dan mingkin otomatis.

i.  Prompting
            Prompting adalah cara yang dilakukan guru untuk menuntun (prompt) siswa memberikan jawaban dengan baik dan benar atas pertanyaan yang guru ajukan. Dengan kata lain dalam merespon (menanggapi) jawaban siswa apabila gagal menjawab pertanyaan , atau kurang sempurna. Cara ini bisa dilakukan dengan:
  1. Menyusun kembali kata-kata pertanyaan (rephrasing) yang sama dalam versi yang paralel. Kegagalan dalam menjawab pertanyaan umumnya disebabkan kegagalan dalam mengerti kata-kata pertanyaan. Guru dapat menghindari kata-kata yang sulit dalam pertanyaan.
  2. Menggunakan pertanyaan yang sederhana yang relevan dengan pertanyaan pertama, misalnya dengan menunjuk atau menggunakan pengalaman siswa, atau pengetahuan yang ada untuk membantu siswa menafsirkan pertanyaan.
  3. Mereview (mengulang) informasi yang diberikan sebelumnya kadang-kadang dapat membantu siswa dalam menjawab pertanyaan. Kegagalan siswa dalam merespon dapat diapakai sebagai petunjuk, bahwa pelajaran yang telah diberikan memiliki tingkat kesukaran yang cukup sulit.

j.  Pengubahan Tuntutan Tingkat Kognitif
            Kebanyakan pertanyaan yang dilakukan guru adalah hanya menanyakan fakta. Karenanya masih diperlukan pertanyaan yang menuntut siswa untuk dapat membedakan, menganalisis dan mengambil keputusan atau menilai informasi yang diterima, berhubungan dengan taksonomi yang diterima. Dalam hal ini taksonomi tujuan pengajaran dari Bloom, ’’kognitif domain” perlu dipertimbangkan sebagai alat yang bermanfaat dalam menyusun berbagai tipe pertanyaan. Penyusunan pertanyaan dapat memiliki tingkat kognitif domain rendah (pengetahuan, pemahaman, penerapan) dan tingkat kognitif domain yang tinggi (analisis, sintesis, evaluasi).

Contoh pertanyaan kognitif rendah:
a)      Di mana perang Diponegoro berlangsung?
b)      Jenis tumbuhan apa yang dapat tumbuh di daerah subtropis?

k.  Hal-hal yang Perlu Dihindari
1)      Mengulang pertanyaan sendiri
Bila guru mengulangi beberapa kali pertanyaan yang sama karena siswa tidak menjawab, maka proses belajar akan menjadi berkurang. Satu pertanyaan yang diikuti dengan satu respon siswa, masih lebih baik dari pertanyaan yang diulang-ulang. Karena perhatian akan menjadi penuh terhadap setiap pertanyaan yang diajukan guru. Untuk berkomunikasi guru-siswa yang baik, susunlah pertanyaan seringkas mungkin agar siswa segera dapat memahami pertanyaan.
2)      Mengulang jawaban siswa
Ada pendapat yang saling berbeda terhadap pengulangan jawaban siswa. Di satu pihak mengatakan bahwa pengulangan jawaban siswa akan menambah atau memperat hubungan guru-siswa. Di lain pihak mengatakan bahwa hal itu akan memperlambat proses pembelajaran, menimbulkan sesuatu yang tidak perlu, kebiasaan mendengarkan pendapat orang lain berkurang, dan mengurangi kebebasan memberi komentar terhadap siswa lain.
3)      Menjawab pertanyaan sendiri
Bila gurusering menjawab pertanyaan sendiri sebelum siswa mempunyai kesempatan untuk menjawab, akan mengakibatkan siswa menjadi frustasi, dan mungkin perhatian siswa menjadi berkurang atau keluar dari proses pembelajaran. Yang berbahaya dalam hal ini ialah bila muncul salah pengertian dari siswa, akan mengakibatkan tujuan pelajaran tidak tercapai.
4)      Meminta jawaban serentak
Bila proses pembelajaran sesuai dengan rencana, dan guru memiliki kesempatan untuk mengevaluasi pencapaian siswa secara induvidual, dianjurkan untuk tidak menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang meminta jawaban serentak. Contoh: ”Kamu semua telah mengerjakan?”  ”Semua telah selesai?” Pertanyaan tersebut tidak memecahkan masalah, dan tidak produktif terhadap kelompok.

2.  Keterampilan Bertanya Lanjut 
            Masalah-masalah yang muncul pada waktu yang akan datang, sebaiknya dapat diantisipasi segera mungkin, sebab hal itu akan berpengaruh besar terhadap masyarakat. Orang harus dapat mengambil pilihan dan putusan yang bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini guru harus dapat mengembangkan keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kognitif dan mengevaluasinya. Fokus utama pada pengajaran adalah mengembangkan kemampuan berpikir, kritis, dapat berdiri sendiri, dan dapat bekerja sama.
            Dengan teknik bertanya melacak, guru akan mendapatkan kemanfaatan khusus dalam hubungannya dengan pertanyaan kognitiftingkat tinggi. Bertnya melacak akan meningkatkan respon siswa dengan menyediakan pertanyaan yang tingkat kesukarannya lebih tinggi, cermat, membantu, dan relevan. Pada saat bertanya melacak, guru berkonsentrasi memperbaiki respon siswa secara individual dengan menyediakan pertanyaan baru, guru masih tetap dengan siswa yang sama dengan waktu seperti pertanyaan sebelumnya. Bila guru memandang perlu, pertanyaan dapat dialihkan ke siswa yang lain. Pemberian waktu sekitar lima detik atau lebih kepada siswa setelah guru bertanya terlalu banyak dan terlalu cepat, distribusi yang cepat dan pemberian waktu yang tidak ada akan kurang membantu siswa untuk berpikir. Ada beberapa keuntungan yang dapat diambil dari pemberian waktu berpikir para siswa, antara lain ialah: 
  1. Respon siswa cenderung lebih panjang, kalimatnya lebih lengkap, menunjukkan kepercayaan diri bertambah. Respon dari sifatnya spekulasi akan kelihatan sekali.
  2. Proses pembelajaran cenderung berubah dari guru sentris ke pembicaraan antarsiwa tentang perbedaan respon yang diberikan.
  3. Guru punya waktu untuk mendengarkan dan berpikir. Serbuan pertanyaan guru berkurang dan cenderung pertanyaan yang bervariasi bertambah. Sebaliknya siswa diberi kesempatan untuk merespon pertanyaan yang memancing daripada sekedar pertanyaan ingatan.
  4. Siswa yang kurang berpartisipasi, berubah menjadi lebih berpartisipasi.

Saling tukar pendapat di antara siswa dan meningkatnya pertanyaan siswa tanpa tuntunan dari guru, menunjukkan pertumbuhan cara berpikir yang bebas dan kedewasaan siswa. Semuanya itu dapat terjadi karena aspek komponen bertanya melacak. Frekuensi dan kualitas pertanyaan siswa hendaklah dipakai sebagai tujuan pengajaran untuk mengurangi kecenderungan monopoli pembicaraan guru dalam proses pembelajaran.

a.  Penggunaan dalam Kelas
            Semua komponen yang terdapat pada keterampilan bertanya dasar, masih tetap berlaku terhadap keterampilan bertanya lanjut. Di samping tujuan yang masih relevan dengan keterampilan ini, ada beberapa tambahan khusus antara lain:
  1. Membantu kemampuan siswa untuk belajar mengorganisasi dan mengevaluasi informasi yang diperoleh.
  2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun dan mengeluarkan jawaban yang beralasan terhadap pertanyaan guru.
  3. Mendorong siswa untuk mengembangkan pikirannya dan cepat mengemukakan pendapat secara timbal balik dengan siswa lain.
  4. Memberi kesempatan kepada semua siswa dan guru untuk mendapatkan pengalaman sukses.

b.  Variasi Taksonomi
            Untuk mengklasifikasikan cara berpikir siswa dalam hubungannya dengan pertanyaan lanjut guru, digunakan konsep dan terminologi dari Bloom:



1).  Recall (mengingat kembali)
            Pertanyaan merecall adalah pertanyaan yang meminta siswa untuk mengingat kembali informasi yang telah diterima sebelumnya. Merecall tidak hanya terhadap pengetahuan (knowledge) tentang fakta, tetapi juga mengingat akan konsep yang luas, generalisasi yang telah didiskusikan, definisi, metode dalam mendekati masalah, kriteria dalam evaluasi, dan lain-lain. Pertanyaan tersebut meminta siswa untuk mengemukakan pengetahuan sebelumnya.
            Pada permulaan pelajaran, biasanya guru banyak mengajukan pertanyaan merecall, agar siswa memiliki kesempatan untuk membentuk atau menyusun kemabali informasi yang telah mereka terima. Hal tersebut dapat dipakai sebagai dasar untuk memberi pertanyaan yang lebih kompleks. Umumnya proses tersebut dapat berjalan cepat karena guru dapat menggunakan pertanyaan yang sifatnya menurun (prompting question).


2).  Pemahaman (comprehension)
            Pertanyaan pemahaman menyangkut kemampuan siswa menyadap informasi, menginterpretasi arti, dan melakukan ekstrapolasi atau memberikan saran-saran. Menyadap informasi atau pesan taua komunikasi akan meliputi kemampuan mengekspresikan dengan kata-kata lain, dapat juga meliputi kemapuan mengembangkan ringkasan yang lebih teliti, menuliskan kembali dalam bentuk verbal suatu pernyataan yang berbentuk simbol-simbol, atau memberi contoh khusus mengilustrasikan ide yang abstrak. Menginterpretasikan meliputi mebeda-bedakan masalah yang luas, dari komponen utama ke dalam tulisan yang kecil-kecil, mengatur kembali, merestruktur komponen sehingga ia atau orang lain dapat mengevaluasinya. Ekstrapolasi meliputi kemampuan mengira-ngira atau memprediksi lebih lanjut apa yang telah pasti untuk menentukan implikasi terhadap pandangan atau pendapat yang diekspresikan. Walaupun pertanyaan komprehesif kadang-kadang hanya memperhatikan kemampuan berpikir yang relatig rendah, kenyataannya akan meliputi tugas siswa yang sukar. Guru memerlukan latihan untuk mempertimbangkan hubungan antara jumlah waktu yang realistik diperlukan dengan respon terhadap pertanyaan yang komprehensif dan kompleks.

Contoh:
a)      Mengapa Anda memerlukan uang setiap saat?
b)      Andaikata pemerintah kita sekarang melakukan devaluasi, akibat-akiabat apa yang mungkin akan muncul?
c)      Revolusi 17 Agustus 1945 berpengaruh terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Jelaskan?
d)     Mengapa angkatan 66 merupakan embrio orde baru?

3).  Aplikasi
            Pertanyaan aplikasi meminta siswa menggunakan abstraksi dan generalisasi pada situasi tertentu. Menurut teori Bloom, pertanyaan aplikasi sangat erat atau dekat dengan pertanyaan komprehensif, tetapi dapat dibedakan. Pertanyaan aplikasi menggunakan generalisasi secara bebas dari suatu keadaan di mana generalisasi telah digambarkan sebelumnya. Pada situasi yang baru, siswa diminta untuk dapat melihat keberlakuan generalisasi tersebut, sebaik seperti yang mereka ketahui sebagaimana adanya. Walaupun siswa menggunakan konsep yang dipakai sebagai tujuan pengajaran penting, tidak berarti harus ada pembedaan yang tegas antara pertanyaan aplikasi dengan pertanyaan komprehensif. Dengan pertanyaan apliaksi, guru mempunyai kesempatan untuk mengulang kembali pelajaran yang penting-penting melalui sudut pandang yang bervariasi.

Contoh:
a)      Harga minyak bumi dapat naik dan turun dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh faktor apa?
b)      Upah buruh tenaga kerja sangat murah di Indonesia, mengapa?

Guru dapat menggunakan contoh dalam kehidupan masyarakat, dan diminta untuk untuk mngaplikasi pengetahuan sebelumnya. Di sini siswa boleh melakukan lompatan dalam pikirannya dan boleh salah. Walaupun evaluasi terhadap jalan pikirannya penting, tetapi penting juga menganggap evaluasi  jangan sampai mengurangi keinginan mengeluarkan pendapat, atau paling tidak untuk mencoba mengetahui dengan pasti relevansi pengetahuan sebelumnya ke dalam situasi yang baru. Pertanyaan aplikasi memberi beberapa kemungkinan keterlibatan siwa untuk berpikir yang bermakna.

4).  Analisis
            Pertanyaan ini meminta siswa untuk dapat memecahkan (break down) masalah sampai ke bagian-bagian kecil untuk mempelajari bagaimana hubungan antara bagian-bagian itu. Pertanyaan ini juga meminta siswa meneliti cara bagaimana masalah itu memperoleh pengaruhnya, baik dalam arti masalah sebagai alat untuk menghasilkan pengaruh, maupun cara bagaimana masalah itu disorganisasi. Misalnya dalam proses pembelajaran, sekelompok siswa diminta untuk mempelajari karangan yang kontoversial dari satu surat kabar. Guru meminta siswa untuk mengidentifikasikan kesimpulan apa yang penulis inginkan, bukti apa yang mendukung kesimpulan itu, keputusan apa yang penulis coba mempengaruhi orang, pertimbangan nilai apa yang terkandung dalam pertanyaan itu, dan bagaimana mengatur penyajian masalah yang dibuatnya.
            Pertanyaan analisis memberi kesempatan yang luas bagi siswa agar terlibat dalam semangat berpikir. Dengan domain kognitif yang tinggi, siswa perlu untuk mengembangkan jawabannyadan menyampaikannya secara hati-hati terhadap pertanyaan guru. Kadang-kadang juga memerlukan keberanian untuk keluar dari respon pertama untuk mempertajam rsepon yang kedua melalui pertanyaan melacak dari guru.

5).  Sintesis
            Pertanyaan sintesi meminta siswa untuk membuat atau membentuk pikiran baru tentang konsep, perencanaan, atau percobaan. Ciri khusus dari pertanyaan ini adalah ”keunikan” produk dari hasil pertanyaan. Karena itu, untuk menentukan apakah pertanyaan itu sintesis atau tidak, diukur dari kata-kata pertanyaan itu sendiri sendiri. Namun demikian, tetap harus diperhatikan ciri keunikan dari produk yang dihasilkan, sebab ada kemungkian akan muncul pertanyaan seperti pertanyaan sintesis.
            Menemukan suatu cara kerja untuk membuktikan hipotesis atau kecermatan dalam pengambilan keputusan, sering dihasilkan dengan pertanyaan sintesis. Contoh, diskusi dalam bidang IPS dengan suatu pertanyaan bahwa: Sebagian besar siswa di sekolah senang bila pembatasan jumlah anak dalam satu keluarga adalah dua. Menemukan cara praktis dalam mengevaluasi kecermatan pengambilan keputusan (pernyataan tersebut), akan melibatkan siswa untuk tidak hanya tahu cara mengumpulkan data dalam masyarakat, tetapi juga tahu cara menemukan perencanaan dalam mencari jalan terbaik untuk menghasilkan situasi yang khusus itu.

Contoh:
a)      Buatlah poster untuk menjual suatu jenis barang dengan teknik reklame yang pernah kita diskusikan!
b)      Tulislah suatu cerita tentang perbedaan pandangan penduduk Cina dengan pribumi, tentang kebijakan pembauran dari pemerintah.
c)      Buatlah laporan tentang penelitian Anda di suatu daerah dengan berbagai media untuk mongkomunikasikannya.

Untuk menjawab pertanyaan sintesis dengan lengkap dibutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu disarankan penggunaannya tidak terlalu banyak. Penggunaan pertanyaan sintesis sebaiknya diikuti dengan pertanyaan melacak daripada diikuti pertanyaan lain. Pertanyaan sintesis akan membuat siswa memiliki kemampuan yang unik, mampu membuat perencanaan atau percobaan dengan sekelompok unsur yang berlainan. Perbedaan penting dengan domin yang lain ialah keterlibatan siswa dalam menemukan, membuat, dan menulis sesuatu yang benar-benar dari mereka.

6).  Evaluasi
            Pertanyaan evalusai meminta siswa untuk membuat keputusan atau menyatakan pendapat khususnya tentang kualitas. Pertanyaan evaluasi sebaiknya diajukan setelah beberapa kali pertemuan. Pertanyaan ini berhubungan dengan pertanyaan sintesis atau analisis. Apabila pertanyaan analisis diajukan terlalu tinggi, akan menghasilkan pandangan yang dangkal, keputusan atau pertimbangan yang tergesa-gesa, bahkan akan menghalangi pemikiran yang jauh berhati-hati.
            Apabila guru akan menggunakan pertanyaan evaluasi, sebaiknya guru memiliki persiapan dalam pikirannya untuk merespon jawaban berebeda dari siswa, kemudian diberikan kepada mereka pandangan atau sikap yang sama. Apabila hal ini tidak dikerjakan guru, dalam waktu lama akan membuat apa yang telah disampaikan siswa dirasakan tidak penting. Dengarkan pendapat siswa baik-baik, jangan menampakkan bahwa guru tidak memerlukan pendapat siswa dalam mengklarifikasi dan merasionalisasi masalah yang diberikan.

7).  Sikuen
            Apabila guru mengembangkan proses pembelajaran dengan menggunakan keterampilan bertanya, sebaiknya digunakan pertanyaan yang sifatnya umum dari tingkat berpikir yang rendah kemudian menuju ke tingkat berpikir yang lebih kompleks atau yang tinggi. Hubungan tingkat berpikir tersebut tidak selalu linier, melinkan dapat dimulai dari tingkat recall kemudian ke komprehensif, terus ke analisis, dan terus ke pertanyaan evaluasi, kemudian diakhiri dengan pertanyaan sintesi. Walaupun hubungan ini tidak linier, namun harus dicegah penggunaan kategori atau tingkat pertanyaan secara random.
            Maksud penting penggunaan keterampilan bertanya ialah membentuk cara berpikir maju yang bertahap-tahap. Juga melibatkan semua siswa pada kegiatan, namun kecepatan dan kemampuan siswa tidak harus menjadi homogen.

c.  Pertanyaan Melacak
            Pertanyaan melacak digunakan untuk membantu siswa dalam menjawab pertyanyaan guru secara memadai, dari jawaban yang singkat sederhana menuju ke jawaban yang lebih tinggi atau jauh. Ada beberapa jenis pertanyaan melacak, yaitu:

1). Klasifikasi
            Pertanyaan ini digunakan bila guru menghendaki jawaban yang jelas dan singkat. Contoh: ”Pengaruh apa yang terjadi terhadap kehidupan ekonomi Papua Nugini apabila tambang tembaga banyak ditemukan di sana?” Siswa mungkin menjawab: ”Negara itu akan menjadi kaya…;kebutuhan hidupnya bertambah…;mereka menghendaki tingkat hidup yang lebih baik…” Pertanyaan klasifikasi yang dapat diajukan guru misalnya: ’’Anda telah banyak memberi jawaban, sekarang saya minta jawabanmu diringkas dalam kalimat pendek.”

2).  Mendukung                      
            Di sini siswa diminta untuk memberikan bukti terhadap pendapatnya. Contoh: ”Mengapa Anda mengatakan demikian?”  ”Mengapa Anda sampai pada kesimpulan itu?” Pertanyaan itu sederhana tetapi bernilai.

3).  Konsensus
            Pertanyaan ini memberi kesempatan kepada seorang anggota kelompok untuk menyebutkan pandangan atau pendapat yang disetujui atau tidak disetujui. Guru juga dapat menggunakan pertnyaan ini untuk membangkitkan diskusi lebih tajam. Hal tersebut dilakukan guru jika diskusi dianggap terlalu sederhana dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Contoh: ”Apakah Anda setuju dengan pendapat demikian?” Biasanya pertanyaan demikian akan mengundang reaksi dari siswa.

4).  Kecermatan         
            Pertanyaan ini digunakan untuk menarik perhatian siswa dalam memperbaiki atau merestruktur kesalahan mereka. Pertanyaan itu tidak boleh memalukan siswa dan tidak sekedar digunakan guru mengetahui bahwa siswa tersebut dapat menjawabnya secara benar, sederhana, dan cepat.

5).  Relevansi
            Pertanyaan yang menuntut relevansi memberikan kesempatan siswa untuk meniali kembali ketepatan jawabannya agar lebih relevan dan jelas. Contoh: ”Bagaimana relevansi jawaban Anda dengan diskusi kita?” ”Mengapa Anda mengatakan demikian?” Kehati-hatian siswa dalam menjawab pertanyaan yang kurang relevan jangan ditolak, tetapi berilah kesempatan untuk melihat kembali jawabannya. Pertanyaan relevansi menyebabkan siswa selalu berhati-hati dalam menjawab semua pertanyaan.


6).  Contoh
            Pertanyaan ini merupakan pertanyaan melacak yang meminta terhadap siswa untuk memberi contoh sederhana khusus atau konkret terhadap respon mereka yang kelihatan meragukan. Meminta cotoh untuk mengilustrasikan suatu konesp dan prinsip, tidak hanya membantu siswa untuk mengklarifikasi, tetapi juga memberi kesempatan kepada guru untuk mengecek ketelitian jawaban yang mereka berikan.

7).  Kompleks
            Pertanyaan melacak yang kompleks dapat digunakan guru dalam meminta kelompok memberi respon penting dari suatu konsep atau prinsip yang lebih luas atau jauh. Pertanyaan itu akan bernilai di dalam proses pembelajaran jika diberikan setelah ada beberapa pendapat atau respon yang pertama. Dengan menggunakan pertanyaan tingkat tinggi, melibatkan siswa berpikir kembali terhadap respon pertama dan mencari kemungkinan jawaban yang lain. Contoh: ”Dapatkah kamu memperluas pendapatmu lebih jauh?” ”Apakah masih ada pendapat penting yang lain?”

            Ada beberapa prinsip penting dalam menggunakan pertanyaan melacak, yaitu:
a)      Pertanyaan tersebut akan efektif bila digunakan sebagai pertanyaan tindak lanjut terhadap respon siswa dengan menggunakan pertanyaan analisis, sintesis, dan evaluasi. Pertanyaan itu memberi peluaang kepada siswa utuk mengahsilkan berbagai pandangan atau pikiran yang luas dan mengembangkannya lebih jauh dalam diskusi.
b)      Sikap guru dalam menggunakan pertanyaan melacak harus tepat, tidak boleh kasar dan mengancam. Sebaiknya harus bersifat mebantu dan mengembangkan pikiran siswa. Guru sebaiknya tahu latar belakang pengetahuan siswa, sehingga pertanyaan itu memiliki manfaat atau tidak. Guru juga harus sensitif bila ada siswa yang menjawab terlalu lama agar jawabannya sempurna dan lengkap, sebab hal ini akan menghilangkan perhatian siswa lain.
c)      Perlu memberi waktu kepada siswa mempelajari yang diharapkan dari jawabannya. Respon siswa mungkin bagus dan sangat membantu, tetapi setelah diklasifikasi dengan menggunakan suatu kriteria, mereka memerlukan waktu untuk mempelajari bagaimana mengambangkan jawaban yang baik dan diteliti.

d).  Pemberian Waktu
            Pada keterampilan bertanya lebih lanjut,pemberian waktu memberi arti tambahan dan makna khusus. Seperti telah diuraikan, pemeberian waktu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu segera setelah guru bertanya dan setelah siswa memberi jawaban dari pertanyaan yang kompleks.
            Siswa memerlukan waktu berpikir agar jawaban tepat dan efektif. Pemberian waktu setelah respon siswa, akan meningktakan refleksi jawaban, dapat mengembangkan jawaban lebih jauh, memberi kesempatan kepada siswa lain untuk memberi sumbangan pikiran, dan jawaban yang lebih teliti, yang akhirnya akan meningkatkan interaksi antarmereka. Pemberian waktu ini juga bermanfaat untuk guru karena dapat mempersiapkan pertanyaan berikutnya.

e).  Meningkatkan Interaksi Antara Siswa
            Guru memilki peranan penting dalam meningkatkan saling tukar pendapat antarsiswa. Caranya ialah dengan meminta siswa memberi komentar atau mengembangkan respon pertama. Permintaan itu dapat lebih  kuat lagi dengan memberi garis besar alasan. Kemudian guru benar-benar mau menerima dan membantu hasil sumbangan pikiran siswa. Tetapi dapat juga guru secara aktif lebih jauh meminta siswa lain untuk memberi komentar secara langsung terhadap respon pertama, atau guru dengan sengaja mengurangi komentar dan kontribusinya sendiri. Dalam membantu siswa, guru dapat mengatur kelas, dengan membagi kelompok, tempat duduk saling berhadapan, dan saling tukar pendapat atau pikiran.
Kelebihan dan Kekurangan dalam Metode Bertanya

Kelebihan :
a.       Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuk.
b.      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingatan.
c.       Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

Kekurangan :
    1. Siswa merasa takut, apalagi jika guru kurang mendorong siswa untuk berani dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
    2. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai tingkat berpikir dan mudah dipahami.
    3. Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab.





DAFTAR PUSTAKA


Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta

Djamarah, Syaiful Bahri, dan             Zain Azwan. 2006. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algesindo

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka


0 komentar: